BACA - BACA
May 22nd, 2008 by usw“…Banyak peserta audisi American Idol yang kemarin gagal audisi yang memberi komentar yang bagus. Komentarnya cerdas-cerdas, padahal itu spontan…” “Dunia dalah sejarah penolakan…” Seorang kawanku menirukan komentar peserta audisi American Idol, sore itu, ketika kita sedang “mangkir” (!!!!) dari suatu kewajiban (Astaghfirullahal’adziim…)
Amerika adalah negara yang maju dalam ilmu pengetahuan. Konon kabarnya, tingkat minat baca disana cukup tinggi. Aku yakin pasti lebih tinggi dari tingkat minat baca di Indonesia.
Dalam fase pertumbuhan atau perkembangan ilmu pengetahuan, terdapat beberapa tahap yang mesti dilalui untuk dapat menguasai pengetahuan secara utuh. Dalam masyarakat tradisional, budaya yang ada adalah budaya lisan, mendongeng, dan mendengarkan. Dalam masyarakat modern, budaya itu telah bergeser menjadi budaya membaca dan menulis. Setelahnya baru masuk pada budaya menonton dengan tetap berpondasi pada budaya baca tulis sebagai bekal analisa peristiwa.
Dan apa yang terjadi di Indonesia?
Berapa jam dalam sehari televisi menyala dalam setiap rumah? Tayangan macam apa yang disuguhkan? Tayangan seperti apa pula yang menduduki rating tinggi? Tayangan televisi kita terdominasi oleh sinetron yang “enggak jelas”, serta tayangan infotainment, gossip-gosip artis. Tayangan ini tanpa disadari telah melakukan penetrasi budaya secara halus dalam pemikiran penontonnya. Kekerasan, materialisme, gaya hidup, penindasan, umpatan-umpatan, olok-olokan, imaginasi berlebihan, telah menjadi santapan setiap hari bagi penonton televisi. Yang terjadi kemudian adalah sebuah penumpulan rasa lewat layar kaca.
Mengakui atau tidak, disadari atau tidak, kebanyakan masyarakat Indonesia sesungguhnya telah mengalami lompatan budaya atau lompatan fase. Setelah melalui fase mendengar (dongeng) mestinya kita masuk ke dalam fase membaca dan menulis.
Kata begawan ilmu pengetahuan Indonesia, Alm. Prof. Sudjatmoko, melalui membaca dan menulis kita mengalami proses internalisasi kata yang kemudian terangkum dalam sebuah kalimat yang memiliki nilai tertentu, sehingga terjadilah proses penyerapan pengetahuan dan informasi. Nah, disinilah proses “mengunyah” informasi dan ilmu itu berlangsung. Yupp, melalui membaca dan menulis. Melalui internalisasi kata, kalimat, dan bahasa yang memiliki nilai dan rasa tertentu.
Akan terasa sangat berbeda ketika informasi itu masuk begitu saja lewat jalan menonton. Menonton begitu instant dan efektif. Kita dapat belajar tanpa harus mengunyah, sehingga seringkali apa yang mestinya tidak tertelan, akhirnya menjadi tertelan juga karena tidak sempat tersaring.
Karenanya, di Indonesia, tayangan sinetron atau gossip menjadi the most favorite television program , sebagai cerminan bahwa masyarakat kita sangat menggemari cerita-cerita, dongeng, berbicara, atau bertutur. Menjadi bangsa yang lebih banyak bicara daripada bertindak, lebih banyak mengeluh daripada berpikiran positif, menjadi bangsa yang lebih banyak menuntut daripada berbuat. Mungkin itulah beberapa ‘pencapaian sukses’ dari kecanggihan kotak ajaib bernama televisi.
Benar juga kata pakar komunikasi UI, Ahmad Effendi Gazali, menonton tayangan televisi di Indonesia membawa pada suatu titik : “Goblok Permanen”, begitu ia bilang.