BACA - BACA

May 22nd, 2008 by usw

“…Banyak peserta audisi American Idol yang kemarin gagal audisi yang memberi komentar yang bagus. Komentarnya cerdas-cerdas, padahal itu spontan…” “Dunia dalah sejarah penolakan…” Seorang kawanku menirukan komentar peserta audisi American Idol, sore itu, ketika kita sedang “mangkir” (!!!!) dari suatu kewajiban (Astaghfirullahal’adziim…)

Amerika adalah negara yang maju dalam ilmu pengetahuan. Konon kabarnya, tingkat minat baca disana cukup tinggi. Aku yakin pasti lebih tinggi dari tingkat minat baca di Indonesia.

Dalam fase pertumbuhan atau perkembangan ilmu pengetahuan, terdapat beberapa tahap yang mesti dilalui untuk dapat menguasai pengetahuan secara utuh. Dalam masyarakat tradisional, budaya yang ada adalah budaya lisan, mendongeng, dan mendengarkan. Dalam masyarakat modern, budaya itu telah bergeser menjadi budaya membaca dan menulis. Setelahnya baru masuk pada budaya menonton dengan tetap berpondasi pada budaya baca tulis sebagai bekal analisa peristiwa.

Dan apa yang terjadi di Indonesia?
Berapa jam dalam sehari televisi menyala dalam setiap rumah? Tayangan macam apa yang disuguhkan? Tayangan seperti apa pula yang menduduki rating tinggi? Tayangan televisi kita terdominasi oleh sinetron yang “enggak jelas”, serta tayangan infotainment, gossip-gosip artis. Tayangan ini tanpa disadari telah melakukan penetrasi budaya secara halus dalam pemikiran penontonnya. Kekerasan, materialisme, gaya hidup, penindasan, umpatan-umpatan, olok-olokan, imaginasi berlebihan, telah menjadi santapan setiap hari bagi penonton televisi. Yang terjadi kemudian adalah sebuah penumpulan rasa lewat layar kaca.

Mengakui atau tidak, disadari atau tidak, kebanyakan masyarakat Indonesia sesungguhnya telah mengalami lompatan budaya atau lompatan fase. Setelah melalui fase mendengar (dongeng) mestinya kita masuk ke dalam fase membaca dan menulis.

Kata begawan ilmu pengetahuan Indonesia, Alm. Prof. Sudjatmoko, melalui membaca dan menulis kita mengalami proses internalisasi kata yang kemudian terangkum dalam sebuah kalimat yang memiliki nilai tertentu, sehingga terjadilah proses penyerapan pengetahuan dan informasi. Nah, disinilah proses “mengunyah” informasi dan ilmu itu berlangsung. Yupp, melalui membaca dan menulis. Melalui internalisasi kata, kalimat, dan bahasa yang memiliki nilai dan rasa tertentu.

Akan terasa sangat berbeda ketika informasi itu masuk begitu saja lewat jalan menonton. Menonton begitu instant dan efektif. Kita dapat belajar tanpa harus mengunyah, sehingga seringkali apa yang mestinya tidak tertelan, akhirnya menjadi tertelan juga karena tidak sempat tersaring.

Karenanya, di Indonesia, tayangan sinetron atau gossip menjadi the most favorite television program , sebagai cerminan bahwa masyarakat kita sangat menggemari cerita-cerita, dongeng, berbicara, atau bertutur. Menjadi bangsa yang lebih banyak bicara daripada bertindak, lebih banyak mengeluh daripada berpikiran positif, menjadi bangsa yang lebih banyak menuntut daripada berbuat. Mungkin itulah beberapa ‘pencapaian sukses’ dari kecanggihan kotak ajaib bernama televisi.

Benar juga kata pakar komunikasi UI, Ahmad Effendi Gazali, menonton tayangan televisi di Indonesia membawa pada suatu titik : “Goblok Permanen”, begitu ia bilang.

Selamat Hari Kebangkitan, Kawan!

May 22nd, 2008 by usw

Selamat Hari Kebangkitan, Kawan…!
Kami adalah manusia kalah
dari bangsa yang terjajah…

Terjajah kepriben?! Kita sudah merdeka, Cing..
sejak tahun 45 pastinya
Ayolah.., tak usah terlalu banyak elegi..

Kami adalah bangsa purba
dengan budaya yang teramat tua
tulang belulang nenek moyang kami
bahkan jadi komoditi di negeri ini.

Lalu bangsa-bangsa berwarna singgah di pulau kami
membawa dupa, kemenyan dan dewa-dewa..
Kami pun berlayar hingga benua dan samudra

Lalu saat itupun tiba,
betapa banyak manusia berkulit babi
dengan topi baja, tongkat berapi dan mesiu
membunuhi kepala suku kami, merampoki tanaman kami,
menenggelamkan kapal-kapal kami, merampas tanah kami

Hingga berabad-abad lamanya
kami adalah bangsa kuli
yang hanya tahu kerja rodi hingga mati
Kapal kami pun tak pernah berlayar lagi
hingga lupa pada laut, bau ombak dan panas matahari..
Kamipun lupa cara berperang,
membuat senjata, memahat arca dan candi..
kami pun terpaksa jadi petani

Hai.. Bung! Sudahlah… tak usah mendongeng cerita basi!
Ini saja yang pasti.. Tahun telah berganti..
Kita sambut abad baru, jaman baru..
Lupakan saja cerita kuno tentang candi,
arca batu dan fosil purba…
biarkan saja maling merampoknya
toh sudah tak ada gunanya buat kita…
kita pun tak punya museum tuk menampungnya
tak ada pula anggaran tuk mengurusnya…

Hai… Ayo… datanglah ke negeri kami,
negeri kaya raya dengan warisan purba
silahkan menikmati negeri kami
silahkan merampoki peninggalan kami
toh, nenek moyang kami juga sudah mati…
Eiit.., tapi jangan lupa, hasilnya nanti kami juga dibagi..!

Ups…
Mesin uap telah tercipta
dan Edison menemukan konstanta cahaya…
Zaman baru industri bermula…

Kami pun membangun jalan besi
hingga anak-anak kami mati tak terurusi
Dan kami mulai tak menanami padi
hingga anak-anak kami lupa pada nasi
Sawah ladang kami pun telah tergadai,
tanam paksa dan land rente Meneer bilang…
Kami pun pura-pura bersekolah
hanya untuk sekedar tahu baca tulis Eropa dan sedikit berhitung
sekedar jadi babu dan kuli di pabrik gula

Selamat Hari Kebangkitan, Kawan…
Beruntung, kami pun tak sengaja pernah berproklamasi…
Jadilah kami bangsa yang “seolah-olah” merdeka…
lalu kami belajar mengurus negeri…

SEEK TO LIVE, REMEMBRANCE IS FOR THE OLD

May 20th, 2008 by usw

SEEK TO LIVE, REMEMBRANCE IS FOR THE OLD

All love stories are the same

All of us have had this experience. At some point, we have each said through our tears, “I’m suffering for a love that’s not worth it.” We suffer because we feel we are giving more than we receive. We suffer because our love is going unrecognized. We suffer because we are unable to impose our own rules. But ultimately there is no good reason for our suffering, for in every love lies the seed of our growth. The more we love, the closer we come to spiritual experience. Those who are truly enlightened, those whose souls are illuminated by love, have been able to overcome all of the inhibitions and preconceptions of their era. They have been joyful—because those who love conquer the world and have no fear of loss. True love is an act of total surrender.

Kuatkanlah hati, Cinta…

April 26th, 2008 by usw

Engkau telah membekaskan sebuah pengkhidmatan yang indah.

Aku sungguh mencintaimu…

Semoga aku belum terlambat untuk mensyukuri keberadaanmu…

Menghikmati kehadiranmu sebagai ‘jalan pulang’-ku…

Melalui sepenggal rasa Cinta yang Dia anugerahkan padaku

Karena aku percaya kamu, maka kuputuskan untuk percaya

dengan langkah dan sikapmu,

Aku percaya bahwa inilah cara terbaik yang harus dijalani

Belajar mencintai setiap jengkal perjalanan dengan cara yang terbaik…

Juga belajar mencintai, dan setia pada takdir… J J

Jadi, seharusnya memang tidak ada yang harus kukhawatirkan lagi…

Kenangan

April 26th, 2008 by usw

Kenangan. Terbuat dari apakah kenangan? Apakah kenangan itu seperti segelas chocolate orange dingin yang selalu dirindukan? Atau serupa alunan saxophone Kenny G yang mengalunkan sebuah romansa di malam-malam yang senyap? Atau seperti suara bijak di seberang telepon yang selalu memperdengarkan kesabarannya untuk menampung segenap keluh kesah dan kemanjaan layaknya kanak-kanak dan kadang mengolok-olok lingkar perut yang semakin gendut? Mmm… atau kenangan itu serasa genggaman tangan yang sesungguhnya sangat menggetarkan hati namun harus dilepas karena dorongan nurani? Akh…

Hidup kita memang penuh kenangan. Penggalan kisah yang sambung-menyambung dengan kisah lain. Kadang terangkai dengan sempurna keindahannya hingga kita selalu menginginkan kenangan itu datang lagi. Kadang pula tercabik di sana-sini, dan meninggalkan perih yang mengiris. Aku ingin menjadi bagian dari kenangan itu, sepotong scene dalam kehidupanmu tanpa tahu akan kau letakkan aku di mana; di intro, reffrain, atau ending? Atau mungkin menjadi bagian interlude yang bisa timbul-tenggelam?

Kita sering merindukan kenangan, bersama rintik hujan sore hari, di saat malam sangat senyap, atau ketika berada di sebuah sudut tanpa batas. Kenangan sering datang perlahan, mendadak di depan mata, lalu lenyap begitu saja. Atau mungkin beringsut, ngendon sekian lama, membentuk sebuah gambar di bingkai kaca, dan melambai-lambai bak fatamorgana. Kenangan memang maya, tapi sering kita tarik ke alam nyata.

Dan mungkin satu-satunya ‘makhluk’ yang tidak dapat dibunuh adalah kenangan. Seperti senja ini, aku amat merindukanmu, maka aku mengenangmu…. Bersama semua cerita dan bayangan yang pernah ada, membentuk sepetak fatamorgana di depan mata, ditemani segelas chocolate orange dingin sambil menikmati lalu lalang dan kerumunan dari jendela kaca lantai tiga, berlatar hijaunya lembah dan kokohnya gunung. Bersama pendar-pendar bola matamu yang lebar, yang kadang menatapku beberapa lama sembari menyelidik, dan seringkali menikam. Bersama sekulum senyummu yang romantis, bijak, sekaligus multi persepsi. Kini aku hanya bisa mengingat dan mengenangnya, karena pertemuan kembali menjadi sesuatu yang asing.

Beberapa waktu berselang… Kini menjadi ironi. Kerinduanku akan kenangan itu kian mewujud dalam sebuah ‘pemberontakan’ dan arogansiku yang makin akut terhadap realitas. Kenapa aku menjadi begitu candu dengan kenangan tentangmu? Kenapa aku begitu saja mengorbankan banyak hal hanya demi sebuah kenangan…???

Rasa dan jiwa, keduanya memang tak mampu digugat melalui kata, dan kamu tidak mengatakan apa-apa… Namun kata bukanlah satu-satunya bahasa. Diakui atau tidak, aku dan dirimu pernah memendam kekaguman tanpa harus banyak bicara. Menyimpan rasa tanpa harus tahu ke mana jejaknya akan pergi. Tetapi apakah sebuah kekaguman itu harus selalu dibicarakan? Aku rasa tidak. Rasa akan dijawab dengan rasa, jiwa akan dibalas dengan jiwa.

Buat Mas Ali..

February 10th, 2007 by usw

Ini khusus Buat Mas Ali sebenarnya…

Sekedar nyambung percakapan kita

Dari "Guru" ku…

J

Mengapa Sunisme dan Syi’isme Masih Juga Diberhalakan?

Sepanjang pengetahuan saya, pada masa Nabi umat Islam itu tunggal, tidak berkeping-keping. Munculnya kelompok Suni, Syi’i, dan Khawarij baru seperempat abad setelah wafatnya Nabi. Kelahiran mereka adalah akibat tahkim (perundingan) di Dumat al-Jandal (657 M.) antara kelompok Ali dan kelompok Mu’awiyah untuk mengakhiri Perang Shiffin yang berdarah-darah dan membuahkan perpecahan itu.

Ketua perunding dari pihak Ali yang dipimpin Abu Musa al-Asy’ari dikalahkan secara telak oleh kepiawaian juru runding ‘Amr ibn al-’Ash sebagai pendukung setia Mu’awiyah. Alquran dan Nabi yang kemudian dibawa-bawa ke dalam sengketa politik ini jelas merupakan penghinaan dan sekaligus pengkhianatan, sadar atau tidak sadar, terhadap kedua sumber ajaran pokok Islam itu. Perbelahan yang kita warisi sampai hari ini berasal dari pertikaian politik di antara puak-puak Arab di atas. Pertanyaannya adalah: mengapa umat Islam yang datang kemudian mau pula turut berkubang dalam sengketa yang dipicu oleh persoalan kekuasaan itu? Di mana kita mendudukkan Alquran sebagai alfurqan (kriterium pembeda antara benar dan salah)?

Sebagian pendukung Ali yang menentang perundingan itu marah besar kepada Ali yang dinilai terlalu lemah menghadapi lawan, padahal kemenangan sudah hampir di tangan. Sempalan dari Ali ini dikenal dalam sejarah dengan sebutan khawarij (yang memisahkan diri). Kelompok inilah yang kemudian merencanakan makar terhadap Mu’awiyah, Ali, dan Ibn al-’Ash yang mereka percayai sebagai pemicu perpecahan umat. Hanya Ali yang berhasil dibunuh oleh Ibn Muljam pada 661 M di Kufah, sedangkan dua yang lain selamat. Dengan terbunuhnya Ali, maka lapanglah jalan bagi Mu’awiyah untuk menjadi penguasa pasca-Al-Khulafa al-Rasyidun, sesuatu yang sudah lama diincarnya.

Perpecahan yang terjadi akibat Perang Shiffin dan Perundingan Dumatul Jandal ternyata berdampak sangat jauh dan dalam bagi bangunan persaudaraan umat yang kemudian terbelah menjadi tiga itu: Suni (golongan terbesar) yang umumnya berpihak kepada pemenang, Syi’i, pembela Ali, dan Khawarij, yang anti terhadap keduanya. Perang saudara ini adalah yang kedua sepeninggal Nabi. Yang pertama adalah Perang Jamal antara Aisyah dan Ali, yang dimenangkan pihak Ali. Anda bisa bayangkan bahwa yang berperang adalah Aisyah, istri Nabi; dan Ali, sepupu dan menantu Nabi, sekalipun istri Ali, Fathimah, putri Nabi bersama Khadijah, sebab Aisyah tidak dikaruniai keturunan. Siapa yang meragukan kualitas iman mereka ini semua. Tak seorang pun, bukan?

Tetapi, kita harus senantiasa ingat bahwa mereka adalah manusia biasa yang tidak kebal dari kesalahan. Dengan kata lain, politik ternyata dapat menyeret manusia ke jurang perpecahan dan peperangan, tidak terkecuali melibatkan para sahabat Nabi yang mulia ini. Ini fakta keras sejarah yang tak seorang pun dapat menutup dan membantahnya. Tinggal lagi bagaimana kita menyikapi kejadian-kejadian tragis itu dengan penuh kearifan, sesuatu yang tidak selalu mudah, sekalipun bukan mustahil, dengan syarat Alquran dijadikan pedoman dan acuan utama dan pertama dalam merumuskan setiap langkah duniawi kita. Jika tidak demikian, Alquran menjadi tidak relevan untuk memberikan solusi terhadap persoalan-persoalan kita yang selalu timbul dan berkembang sepanjang zaman.

Tentu timbul pertanyaan, mengapa luka-luka lama itu diungkit-ungkit juga, sebab itu hanyalah akan menambah beban psikologi umat yang sedang kalah ini? Jawabannya sederhana saja: Bagaimana mau menutupinya karena luka itu masih tetap saja memancarkan darah segar dari tubuh umat ini di berbagai belahan dunia, di Irak, Afghanistan, Palestina, dan di mana lagi, tragedi tak kunjung usai jua. Inilah realitas kita yang tidak perlu diingkari, tetapi harus dihadapi dengan jiwa besar dan sabar, sambil diupayakan pemecahannya sejujur dan secerdas mungkin, kecuali jika kita memang mau membuang Alquran ke dalam limbo sejarah dan digantikan oleh ”Islam” dalam jubah sunisme, syi’isme, dan isme apa lagi, seperti yang berlaku berabad-abad. Bukankah semua ini adalah berhala politik yang tidak layak diteruskan, jika memang kita mengaku setia kepada Alquran?

Semangat di atas pernah saya lontarkan di depan forum ulama dan sarjana Suni di Kuala Lumpur dan di depan ulama dan sarjana Syi’ah di Tehran beberapa tahun yang lalu. Saya ingin mereka bersedia mendekati Alquran dengan melepaskan jubah-jubah politik dan teologi sebagai ekor Perang Shiffin yang membawa malapetaka panjang itu. Selama jubah-jubah itu tetap saja disandang, saya amat khawatir keluhan Rasul kepada Allah sedang dialamatkan kepada dunia Islam sekarang ini. ”Dan mengeluh [aslinya berkata] Rasul: ya Tuhanku, sesungguhnya kaumku telah menyebabkan Alquran ini ditelantarkan.” (lihat Alquran Surat Al-Furqan: 30).

(Ahmad Syafii Maarif)

Mencintai

February 4th, 2007 by usw

"…
Nothing can come from nothing," tulis Jostein Gaarder dalam salah
satu novel filsafatnya yang terkenal. Tidak ada memang, yang dapat datang dari
ketiadaan. Sesuatu seharusnya ada sebabnya. Cinta pun, harus ada alasannya.
Kita mencintai pasangan kita karena apa?

Konon,
jika kita mencintai seseorang karena hartanya, kita akan mendapatkan harta itu.
Jika kita mencintai karena kehormatan keturunannya, kita pun akan terimbas
kehormatan itu. Dan jika kita mencintai dan menikahi seseorang karena kebagusan
parasnya, kita pun akan segera mendapatkan paras itu.

Cinta
juga adalah kekuatan, baik bagi bangsat hingga ahli ma’rifat. Lihat, di banyak
rumah tahanan, sebagian besar penghuni tahanan masuk ke sana karena menganiaya,
membunuh, atau terlibat dalam kompleksitas perasaan lain dengan orang yang
mereka cintai.

Sementara
itu, pasti juga selalu ada orang yang sujud syukur tanpa henti karena merasa
dianugerahi kemampuan untuk mencintai dengan cara terbaik. Mereka mencintai
pasangannya bukan karena apa-apa lagi, tetapi karena Allah saja.

Uniknya,
penyederhanaan sebab mencintai menjadi "hanya karena Allah saja" itu
justru sering menjadi "kekuatan yang tidak disadari", yang membuat
semua aspek baik dari pasangannya, apakah itu harta, kehormatan dan ketampanan
atau kejelitaan, tiba-tiba turut datang juga menjadi milik. Anugerah-anugerah
itu membuat mereka kehilangan kata untuk berterima kasih selain dengan sujud
berlama-lama.

Pada
awalnya, makna dari "mencintai karena Allah" mungkin terasa paling
tulus, kudus, dan bahkan membebaskan. Membebaskan karena tidak ada tetek-bengek
pertimbangan "bibit, bebet, bobot" yang sering menjadikan cinta
menjadi sejenis barang dagangan yang hanya bisa didapat dengan harga tertentu,
dan dibuang ke tong sampah jika ternyata tidak terbeli.

Tetapi
kemudian, beberapa pemikir yang kompeten lantas membuatnya menjadi sebuah
kategori logika juga. Aku sendiri tidak tahu persis "ciri-ciri" yang
membuat seseorang yang sedang mencintai dapat dikategorikan sebagai orang yang
"mencintai karena Allah saja". Tetapi tampaknya, tidak ada yang
berani menolak jika dikatakan bahwa ciri-ciri "mencintai seseorang karena
Allah saja" itu artinya adalah : mencintai sesuai dengan Alquran dan Al
Hadits.

Dalam
konteks ini, konon, pemilihan pasangan tidak boleh hanya didasarkan kepada uang
yang dipunyai, status sosial keluarga, atau kebagusan paras dan tubuh, tetapi
karena keimanan dan kualitas amal.

Yang
jelas, "mencintai" kini lebih sering menjadi objek analisis pemikiran
dari pada proses pengasahan ketajaman rasa. Kini, jika terdapat seorang pemuka
agama yang menganjurkan pengikutnya untuk "mencintai karena Allah
saja", pasti akan banyak pertanyaan yang langsung meluncur dengan inti,
"Seperti apa sih mencintai karena Allah saja itu?" Cara yang paling
sekuler dalam mencintai pun doyan memakai analisis; bahwa yang namanya
mencintai itu harus berdasarkan beberapa sebab, di antaranya: kagum dan hormat.

Susahnya,
bukankah tidak ada seorang pun di dunia normal ini yang akan selalu ada dalam
kondisi istimewa itu? Jadi, seperti apa mencintai yang terbaik itu?

"Ya
… dengan mencintai sajalah, " kata teman perempuanku suatu kali. Cinta
baginya mungkin menghilangkan semua alasan, karena ia memang bukan untuk
dipikirkan tetapi dikenali. Jika dalam membina hubungan cinta, ingatan
kepada-Nya ternyata mengabadikan kebahagiaan dan memunculkan hikmah dari
konflik, hingga Ia jadi dekat tak terkatakan, mungkin, itulah semuanya.
Singkatnya, rasakan saja

Bencana

February 2nd, 2007 by usw

Keresahan Walhi Tentang Pulau Jawa

Dalam kamus Bahasa Indonesia atau Kamus Dewan Bahasa Malaysia, perkataan resah hampir sama saja artinya dengan perkataan risau, gelisah, dan cemas, dan mungkin juga perkataan gundah dapat pula dimasukkan dalam kategori yang sama. Saya memilih perkataan resah, karena terasa lebih tajam, dalam dan menyentuh. Walhi resah karena membayangkan nasib masa depan Pulau Jawa yang semakin terancam karena pola pembangunan yang sama sekali tidak menghiraukan lingkungan.

Jauh sebelum peringatan keras Walhi tentang nasib Jawa dengan judul ”Pulau Jawa Terancam Punah” (lih.Republika 28 Des.2006 hlm.22), Prof. Soemitro Djojohadikusumo pernah pula mengatakan Pulau Jawa akan menjadi padang pasir, jika kecenderungan pembangunan tetap saja tidak hirau dengan lingkungan yang semakin rusak. Pragmatisme egoistiklah sebenarnya yang telah membuahkan malapetaka beruntun, tidak saja dipulau yang sudah sesak ini, tetapi juga di tanah sabrang, kondisinya setali tiga uang. Berapa rakyat yang sudah mati karena banjir, tanah longsor, dan bencana alam lainnya, pada dasarnya berhulu dari filosofi pragmatisme yang jauh dari kearifan itu. Jika peringatan Walhi ini tidak juga dihiraukan, lalu siapa yang akan disumpahi oleh generasi yang akan datang yang tinggal mewarisi kebobrokan bapak-bapaknya yang berpikiran serba pendek destruktif?

Mari kita ikuti lebih rinci data bencana terbaru di Pulau Jawa yang disampaikan Ketua Walhi Jakarta, Slamet Daroyni. ”Tahun 2004 jumlah hutan di Pulau Jawa hanya tersisa 2.926.949 hektare dengan 21,51 persen atau 629.705 hektare berada dalam kondisi kritis karena rusak berat…tidak heran jika Pulau Jawa terus menerus dilanda bencana…banjir bandang awal tahun 2006 yang melanda kawasan Jember, Banjarnegara dan Purworejo merupakan bukti ketidakmampuan alam dalam menanggung beban. ”Jawa yang luasnya hanya 6,9 persen dari seluruh daratan Indonesia, tetapi dihuni oleh sekitar 60 persen penduduk negeri ini, tampaknya memang sedang memasuki tahap SOS (save our soul/selamatkan jiwa kami).

Pertanyaannya adalah: masihkah ada telinga yang mau mendengar jeritan ini? Wakil rakyat? Jauh panggang dari api. Energi bangsa terlalu banyak terkuras oleh berita perselingkuhan dan tambah bini, sementara lingkungan sekitar semakin memburuk dan membusuk. Mengapa sebagian elite bangsa ini terus saja mengalami mati rasa dari hari ke hari?

Di daerah pinggiran, di kampung-kampung, tanah persawahan sudah semakin habis dijual penduduk untuk lokasi perumahan, gudang, pabrik, warung dan lain-lain, padahal tanahnya subur. Keadaan serupa dapat kita jumpai di berbagai bagian pulau Jawa, dan sampai batas-batas tertentu juga melanda tanah sabrang. Itu belum lagi kita berbicara tentang pembalakan kayu secara liar di pulau-pulau lain di nusantara. Apakah Sumatra yang pernah disebut Pulau Harapan tempo doeloe pada saatnya nanti hanyalah sebuah ilusi setelah hutannya dibabat secara serakah oleh mereka yang telah mati rasa? Bagaimana nasib Kalimantan, Papua, Sulawesi, Riau Lautan, dan ribuan pulau yang lain di nusantara yang terus dibencanai oleh anak-anaknya sendiri yang tidak bermoral?

Sebagian memang kerusakan hutan itu dilakukan oleh rakyat miskin yang terjepit oleh penderitaan. Tetapi skalanya tidak seberapa dibandingkan dengan pembalakan liar yang dilakukan pengusaha hitam, tentu via kongkalikong dengan aparat, bukan? Inilah Indonesia, sebuah negara kepulauan yang sebenarnya masih cantik, tetapi karena perbuatan amoral dari sebagian anaknya, kecantikan itu semakin redup, pupus dan kusam.

Akhirnya, peringatan Walhi mohon jangan dianggap angin lalu, sebab bencana demi bencana telah terlalu banyak makan korban dan akan terus makan korban. Diperkirakan tahun 2007 situasinya akan semakin parah, kecuali yang berkuasa dan masyarakat luas di negeri ini mau memasang mata dan telinga untuk membaca dan mendengar seruan ini: SOS! Bukankah kata Walhi, ”83 persen wilayah kita rawan bencana?”

( ASM )

Bismillah…

January 31st, 2007 by usw

Serasa
petikan dawai gitar dengan nada penuh kelembutan…kemesraan… antara bulan
dan bintang di peraduan malam begitu mempesonakan. Begitu dalam saling berbagi
cahaya kehidupan hingga mengalir dalam ketenteraman jiwaku seseorang begitu
dalam…sedalam rahasia bumi yang tak ternaikkan, sedalam keheningan hati
ketika harapan tak tertuntaskan…seriak gemuruh air terjun yang dalam…
serasa aku sendiri menikmati kehidupan…